Sunday, November 5, 2006

Tambal Sulam


Hari ini aku jadi pemalas tulen meskipun aku memulai hari dengan baik. Aku mengatur jadualku untuk minggu depan dan bulan-bulan berikutnya seperti hari-hari itu sudah di depan mata. Tapi aku tahu memang “sudah di depan mata”. Masih segar di ingatanku waktu ATO memberitahu kalau dia akan menikah bulan Nopember. Waktu itu rasanya tidak bisa membayangkan. Nyatanya enam bulan berlalu begitu saja.

Aku membongkar kanvas-kanvas belanjaanku dan berusaha memfokuskan ke kreasi ini. Seperti biasa, hal-hal yang mudah dan menyenangkan aku kesampingkan dulu untuk mengerjakan hal-hal lain yang lebih menantang. Kalau dipikir, untuk apa coba?

Dan benar, aku hanya menggunakan waktu untuk membaca blog orang dan membaca buku yang sama sejak kemarin sambil terkantuk-kantuk dimana-mana. Di meja komputer, di sofa kuning, di kursi di balkon,… Aku menyerah. Pukul 14:30 aku membaringkan badan di sofa dan siap tidur. Lagu lama. Pikiran malah kemana-mana dan ngantuk lenyap.

Akhirnya aku membaca lagi sampai petang. Baru aku berpikir aku harus mulai sesuatu. Aku pegang majalah dan jadilah satu karya kolase. Lumayan. Tapi apa kabar kanvas-kanvas itu ya? Masih putih bersih.

Proyek air sudah selesai akhirnya meskipun pompanya masih dipasang sementara. Para staf sudah kelelahan selama tiga hari berkutat urusan air di rumah orang. Kasihan mereka. Lengkap sudah rumah tua sepuluh tahunku ini makin tambal sulam.