Showing posts with label Indonesian. Show all posts
Showing posts with label Indonesian. Show all posts

Sunday, November 5, 2006

Tambal Sulam


Hari ini aku jadi pemalas tulen meskipun aku memulai hari dengan baik. Aku mengatur jadualku untuk minggu depan dan bulan-bulan berikutnya seperti hari-hari itu sudah di depan mata. Tapi aku tahu memang “sudah di depan mata”. Masih segar di ingatanku waktu ATO memberitahu kalau dia akan menikah bulan Nopember. Waktu itu rasanya tidak bisa membayangkan. Nyatanya enam bulan berlalu begitu saja.

Aku membongkar kanvas-kanvas belanjaanku dan berusaha memfokuskan ke kreasi ini. Seperti biasa, hal-hal yang mudah dan menyenangkan aku kesampingkan dulu untuk mengerjakan hal-hal lain yang lebih menantang. Kalau dipikir, untuk apa coba?

Dan benar, aku hanya menggunakan waktu untuk membaca blog orang dan membaca buku yang sama sejak kemarin sambil terkantuk-kantuk dimana-mana. Di meja komputer, di sofa kuning, di kursi di balkon,… Aku menyerah. Pukul 14:30 aku membaringkan badan di sofa dan siap tidur. Lagu lama. Pikiran malah kemana-mana dan ngantuk lenyap.

Akhirnya aku membaca lagi sampai petang. Baru aku berpikir aku harus mulai sesuatu. Aku pegang majalah dan jadilah satu karya kolase. Lumayan. Tapi apa kabar kanvas-kanvas itu ya? Masih putih bersih.

Proyek air sudah selesai akhirnya meskipun pompanya masih dipasang sementara. Para staf sudah kelelahan selama tiga hari berkutat urusan air di rumah orang. Kasihan mereka. Lengkap sudah rumah tua sepuluh tahunku ini makin tambal sulam.

Friday, October 20, 2006

Mulai Dari Nol


Hari ini rasanya aneh. Yang pasti hawanya panas meskipun dengan dua AC menyala sepanjang hari dengan tombol bergambar ‘otot’ dalam posisi menyala. Artinya, AC sudah nyala dengan ngotot tapi masih tetap panas.

Kelihatannya ada yang salah di kepala. Malas. Menunda (baca: prokras). Aku banyak menulis dan membaca hari ini tapi tidak bekerja. Itu tidak baik.

Ada satu keadaan yang aku suka, entah kenapa sejak bangun pagi aku merasa hidupku mulai dari nol. Nah. Apa pula itu? Ya, seperti PDA yang tiba-tiba berhenti karena terlalu banyak berpikir dalam waktu singkat, tekan satu tombol tersembunyi dalam-dalam (tapi tidak terlalu lama karena data bisa hilang semua), lalu muncullah layar baru dengan ‘kesegaran’ baru yang siap untuk diisi dengan yang baru. Itu. Masalahnya, atau isyunya, bahan baru belum bisa masuk hari ini. Jadi aku masih dalam posisi nol.

Aku mencoba mencari ide dari blog orang lain tapi hari ini aku belum mujur. Blog yang aku klik secara sebarang isinya hanya mengenai politik dan keputusasaan hidup. Huh. Tidak memberi inspirasi sama sekali. Aku coba berpaling ke ‘masalah dalam negeri’ tapi lagi-lagi belum ada satu blog ‘lokal’ yang bisa aku gemari atau cukup aku gemari untuk aku kunjungi lagi dan lagi. Komitmen memelihara blog masih rendah jadi isinya hanya ‘sisa hidup yang tidak berharga’ seperti memeriksa apa yang ada didalam ‘Recycle Bin’.

Aku jadi teringat empat buku baruku. Rasanya aku ingin melahap semuanya dalam waktu yang bersamaan. Beberapa bulan yang lalu semua buku baruku mengenai ‘bagaimana menulis yang baik’, kali ini buku-bukuku lebih banyak mengenai hal itu tadi. Mulai dari nol. Baru teringat, topik ini cocok sekali dengan semangat idul fitri meskipun aku tidak puasa. Mulai dari nol tanpa puasa satu bulan? Boleh juga.

Jadi bagaimana aku menghabiskan malamku sekarang? Aku masih menimbang antara belajar lebih jauh mengenai dunia nirkabel atau.. dunia mulai dari nol. Hh..

Foto stan buku di tepi jalan di Yangon.

Sunday, July 16, 2006

Semua Hanya Ada di Pikiran


Baru tadi aku ingat kalau aku sudah lama tidak menulis dalam Bahasa Indonesia. Sudah lupa pada komitmen awal dua bulan yang lalu, mungkin, untuk menulis dalam Bahasa Indonesia minimal satu kali dalam satu minggu.

Pagi ini aku bangun pagi seperti biasa. Chiko tidak pulang semalam. Seperti punya anak laki-laki remaja, mungkin, rasanya. Aku tidak bisa berangkat tidur dengan tenang karena perasaan yang mengganjal punya kesayangan masih beredar di luar sana. Tapi aku lega waktu bangun, aku mendengar suaranya minta makan. Dasar laki-laki.. eh dasar kucing!

Seperti biasa aku langsung buka komputer dan mengecek komentar atas karyaku. Semalam komentar masuk beruntun, senang rasanya mendengar komentar orang, terutama yang mengakui ideku orisinil ha ha. Tepatnya, aku memang selalu punya ide orisinil karena aku iseng ha ha. Pagi ini hanya ada satu komentar, meskipun lalu masuk beberapa sampai saat ini. Senaaang!

Aku tidak berlama-lama di komputer karena punya satu karya yang siap dikerjakan pagi ini. Semalam aku tidak mau menyelesaikannya karena lagi-lagi alasan penerangan. Jadi segar sekali rasanya untuk berkarya, dengan ide yang sudah bulat, di pagi hari pula.

Tidak sampai setengah jam It is all in your mind (foto diatas) selesai. Ini karya pertamaku mengkombinasi karya tangan dan karya pikiran (dalam bentuk tulisan). Aku tidak bisa menyebutnya puisi karena tidak memenuhi pakem, lebih ke gerutuan ha ha. Ya.. aku memang sedang menggerutu dengan diriku sendiri karena selalu punya pikiran mengenai kenapa orang bertindak ini-itu. Kenapa aku harus berpikir begitu? Itu hidup dia, keputusan dia, masalah dia. Aku tidak ada urusan. Jadi kalau aku merasa tidak nyaman karenanya, itu semua hanya pikiranku. Sial.

Ada satu hal yang aku sadari sampai saat ini (hari belum berakhir). Ternyata panggilan itu penting untuk berfungsi dengan baik. Contoh: aku baru saja mencetak keterangan yang aku tulis di blucolage untuk aku pasang di halaman sebelah karyaku. Aku sudah berencana sejak lama tapi belum juga terwujud sampai tadi. Dan ternyata mudah dan cepat. Jadi yang penting bukan teknisnya, tapi lebih pada kemauannya. Kan?

Kembali pada intinya, semua hanya ada di pikiran.

Thursday, June 15, 2006

i R i

Beberapa hari yang lalu aku menyadari kalau aku sudah lama tidak menulis dalam Bahasa Indonesia. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba keinginan yang pernah aku canangkan bulan lalu menghilang begitu saja dari rutinitasku.

Sejalan dengan cepatnya waktu berlalu, aku menyadari kalau aku juga berubah dengan cepat. Kebiasaanku, kegiatanku, ritmeku, cara berpikirku,… seperti tanpa ada proses lagi. Semuanya berlari seperti menjentikan foto slide di pemutarnya.

Pembacaku juga berubah. Komentator bahasa Indonesia-ku menghilang. RAD menghilang ditelan kesibukan mengurus Yogya, aku sudah lama tidak mendengar kabar dari AMI,..

Aku juga sering kaget menyadari kalau aku ketinggalan satu–dua pos di blog temanku. Seperti mimpi, baru membaca kemarin, tiba-tiba empat hari sudah berlalu dan aku terlewat membaca beberapa pos. Oh.

Beberapa waktu yang lalu aku mengatakan pada seorang teman baik kalau aku ‘tidak sanggup’ membaca beberapa blog karena alasan sentimental. Seperti juga teman, blog mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang membangkitkan semangat dan ada yang mengingatkan pada hal-hal yang sedih.

Salah satu blog yang jarang aku cek meskipun aku sangat menyukainya adalah blog Paredes. Aku tak suka mengatakannya tapi aku harus mengakuinya.. aku iri dengan kehidupannya yang nampak begitu indah. Keluarga yang bahagia, istri dan anak-anak yang cantik dan baik, kegiatannya di musik dan kesenian lain,.. Aku senang melihat kehidupannya seperti aku melihat kisah di film-film Hollywood dimana semua nampak indah. Yang membuatku iri bukan karena keindahan hidupnya, tapi karena keyakinanku kalau hidup Paredes seindah yang dia gambarkan di blog-nya. Nah!

Kalau sudah begini, sulit rasanya untuk menghitung keuntungan dan kelebihan yang aku punya. Cermin yang aku pakai untuk memantulkan diriku terlalu indah, seperti cermin yang membuatku nampak lebih tinggi dan langsing. Penuh ilusi. Karena itu, di saat-saat seperti ini, aku lebih suka tidak bercermin (pada cermin apapun). Kadang-kadang tidak tahu apa kelebihan dan kekurangan kita lebih baik daripada mengetahui semuanya dan berusaha mengubahnya.

Seperti yang aku lakukan dengan menimbang badan hari ini. Oprah membahas tentang penderita anorexia yang kerasukan timbangan badan. Mereka bisa mengecek berat badan dua belas kali dalam sehari. Aku teringat kalau aku sudah lama tidak mengecek berat badan yang biasanya aku lakukan sebelum mandi. Sesudah berbulan-bulan tidak tahu berapa berat badanku (yang relatif stabil ini), aku berharap ada kejutan dengan menimbangnya hari ini.

Kejutan!! Tetap 44!!


Foto: ES di dalam instalasi di Rumah Seni Cemeti di Yogya.

Thursday, May 25, 2006

Cloudy Weather

Got home late last night. Ten after midnight. I thought I would wake up late this morning. At 4:00 I was half awake and hardly got back to sleep. I waited and waited. I got up before 6:20. Felt tired..

I had no plan for today. It’s Catholic holiday today. Bit quiet except constructing neighbor’s endless knock. Many Jakartan left for the long weekend. I was thinking to go to Yogya. Relatives will commemorate great-uncle’s 1000 days of passing away. It’s not just for the commemorate, for a change too.. Be away from rut.

I heard many Jakartan go to Yogya this weekend. Some for Merapi, some for families, some for holiday,… and PEN’s husband – SIM – for Mozart concert!! He likes classical music very much. The orchestra played in Jakarta a few days ago and they have tour to four big cities. And it’s interesting that they play different repertoire in different cities. So SIM also came to Yogya for other repertoire he likes. I believe I can do the same if I like a musician.

I enjoyed reading Gail Sher’s One Continuous Mistake (thanks daw for the photo). It’s a must read book for writer. It’s not about how to write well, but how to process the idea into writing. So interesting. Many Ping! -- "the immediate recognition of a truth suddenly grasped and aptly conveyed". She mentioned “Environment is stronger than will”; that “to attain your goals you should surround yourself with people who are actively striving toward similar ones”. That’s very true!

Then about ‘invisible practice’ that is “a myriad behing-the-scene activities before the writing itself”. She divides the time “60 percent organization, 40 percent writing, and 10 percent this and that”. And it’s also interesting about searching “the right word” is an endless process of writing.

And finally about receiving feedback and be a good commentator. The latter is not easy because it involves caring or be out of tune with the writer. That “a comment may accurate “by the book” but may be off “by the heart””. So interesting how she described the truth about giving and receiving comment. 11:03

Tengah hari baru lewat tapi rasanya seperti satu hari sudah berlalu. Baru terasa olehku perlunya punya acara dan rencana untuk menghabiskan hari. Aku memang tipe orang dengan rencana, aku tidak bisa lepas dari kebiasaan ‘lahir’ ini. Aku perlu ‘komitmen’ untuk memulai hari.

Ya, kemarin aku kembali menyadari -- sesudah beribu-ribu kali menyadari -- kalau aku terlalu serius menghadapi hidup. Keseriusan ini yang membelengguku sendiri. Kenapa aku harus hidup dengan rumus-rumus dan rencana-rencana yang aku buat sendiri? Aku jadi geli sendiri. Susah ya keluar dari kebiasaan lahir ha ha.

Aku baru selesai membaca satu cerpen karya Dee di buku kumpulan karyanya "Filosofi Kopi". Bagus juga. Bahasanya sederhana, alurnya menggigit, ceritanya mengandung pesan, klimaksnya bagus. Semuanya bagus. Untunglah aku mendapat ide untuk kembali membaca buku karya anak negeri. Karya generasiku ini tidak seberat karya sastra yang harus aku baca waktu anak-anak.

Ini seperti mendengarkan musik karya generasi sekarang. Aku baru mulai pelan-pelan mendengarkan karya pemusik kini seperti Dewa, Tohpati, sampai Radja. Eh bagus juga ternyata. Sederhana tapi kreatif. Belakangan ada grup baru yang sedang naik daun, Samson. Aku belum mengenali lagu-lagunya. Semalam aku dengar dua lagunya diputar di mal. Aku ingin coba beli kasetnya hari ini. Ini cara murah untuk mengenal musik, beli kasetnya Rp. 20.000 untuk diputar di mobil yang pemutar CD-nya rusak, kalau cocok baru beli CD-nya. Kalau dihitung total.. jatuhnya mahal juga ha ha.. Tak apa.

Monday, May 22, 2006

WW - Without Warning

Change

I had hectic morning. UB has stall in an international bazaar tomorrow and no namecard! I forgot to order so I had to print tempo namecard myself ha ha. I had to struggle a bit how to make it nice and use the nice orange paper efficiently. It’s fun tho.

One of my staff, AG, came to my work place. He told me that this coming three months would be his last part in uni. He takes architecture. He decided to go to uni a year after he worked in FRA in 1998. We support the time because he refused financial support. Fine.

He has flexy time at work although in practice he 'offers' his time 24 hours. Sometimes we need him as driver; in the evening to reception, or early morning to airport. Everybody is happy with the arrangement. And now he came with news that he has to attend studio full time. No more flexy time for workshop and house. Well, a bit shocking although -- of course -- I knew that this will come sooner or later.

We talked about biz too, how slow we are the last six months. Workshop has no activity the last two months except some orders from FRA. AG plans to leave workshop soon after he finishes uni. I care about the other two boys. AD has family and limited skill but he is very helpful in keeping FRA when LIN off and UB in bazaar. He is good in cleaning and simple cooking too. I would like to keep him for ever.

The other boy, ML (AD’s little brother), is intelligent. I had offered him further education when he just joined five years ago, he dropped the offer. But I think this is the time to send him to a short course. He has artistic hands. He is good in making calligraphy and sketching. If he takes course in graphic designing, I believe he could earn more from taking order. And I don’t mind getting only half of his time.

I need to talk to FRA staffs soon. We hadn’t had an open forum since biz becomes slow. We used to have every other Saturday. I have to look after them. What’s the future of everybody and FRA?! Aaargghh… It comes now.

I also took time to interview my live-in staff. She is very quiet. It needs patience to get her talking. This morning she told me that Chiko pee-d on her mattress again. I asked her to throw the mattress away and I will get a new one. So I asked her what kind of mattress she would like to have. Soo hard to get her idea. She is shy and … was scared of me?? I talked to her softly and patiently. Still.

Talk about something else, I remember a chat with friend. He told me his hypothesis about why many persons cheated me. He reminded me that I might have treated them like biz buddies. You get what you are supposed to get, I get mine, we are both happy. Mm.. he might be right.

He said that I might not give enough personal attention. Hm.. I wonder then, how far should I go? I talked to them over phone sometimes, I gave them time when they asked, I greeted them on special days like Eid and new year,… I felt bad for I didn’t know where I went wrong, but I felt better after I met YUG last week. She told me that a wife of a well-known journalist has similar problem, many cheated her. I know her. She is a caring and thoughtful person. I believe nothing is wrong with us. Like a friend told me, we just need to acknowledge both sides of a person: the good and evil.

Photo: Painting by Bambang Pramudiyanto, 2006.


Penemuan

Aduh kepala ini pusing sejak pagi. Seperti melayang. Apalagi tadi pagi heboh nge-print kartu nama UB untuk bazar besok. Ini akibat dari hobi menunda pekerjaan, pas diperlukan, semua belum siap. Kelihatannya aku harus beli buku untuk “si gemar menunda”, yang dibeli temanku minggu lalu, Eat That Frog! (daw, terimakasih fotonya). Tapi omong-omong, aku kan tahu teorinya. Kalau malas, malas aja.

Tapi aku lumayan produktif kok hari ini. Nge-print udah, baca udah, nulis udah, luluran udah ha ha… Pas banget Ibu itu ‘maksa’ datang hari ini. Pas pusing, pas tidak pengen pergi. Baru saja RAD ajak nonton Da Vinci Code nanti malam. Aku tidak ingat kapan terakhir masuk bioskop di Jakarta. Terakhir nonton akhir tahun 2003 di Perth, atau tahun sebelumnya ya?

Siang-siang dibikin kaget oleh 'penemuan' email dari teman sangat baik yang sudah enam bulan ini seperti menghilang. Aku terakhir ketemu M di Singapura Nopember lalu, sejak itu tak ada kabar sampai dia kirim ini hari ini:

Hi Sweetie. Tell me how you're doing? Are you in
Jakarta? Can I call you? Give me your number. Are you
coming to Singapore? I miss you. Love, M

Lalu baru saja aku kaget waktu nemu blog teman baikku. Duh dia kok tidak bilang-bilang kalau sudah mulai bikin blog, sementara aku masih sibuk mendorong dia untuk mulai menulis. Tapi aku senang untuknya. Sayang aku tidak tahu ‘cara kerja’ Yahoo 360 dan Friendster. Apa harus jadi anggota dulu? Aku membatasi ‘keanggotaanku’. Males banget terlalu banyak email pemberitahuan di Inbox (pasal ini lihat pos kemarin soal Inbox kurus).

Nulis untuk hari ini disudahi dulu. Sudah banyak. Aku masih ada tugas membaca dari teman. Seperti jadi anggota “book club”, kami suka bertukar pikiran tentang satu buku yang sama. Seru jugaaa..

Saturday, May 20, 2006

BuBBling

20.05.2005

Today is supposedly the first anniversary of UB. The date was special, but I preferred to postpone the opening because I had a... special trip last year. Hm.. now I cannot remember when the opening was. I tried to look for a clue by opening my photo files. Nothing.

Yea.. it was a ‘silent’ opening in the middle of a week. I just set any date and went to UB with ATO bringing a plate of little colorful snacks (Javanese small selamatan). I texted close friends and relatives to announce the new venture. NIE came in the afternoon although she was not UB first customer. It was fun.

Cousins and I had the idea to have accessories biz months before the opening of the shop, almost one year. We started by selling stuffs in bazaars and.. it worked well! We needed beading material more n more in the following months. That inspired me to rent a small space next to FRA which had been abandoned over one year.

It took months to negotiate with self and space owner. Finally, I made the deal to rent the space starting April 2005. My staffs worked on the cleaning, painting, and making the metal shelves. Shop was ready three weeks after the deal but I was not satisfied. I changed the interior again n again. That’s when I really had to set a date for the opening which then... I forgot when. Anyway, I’m happy to have this biz for over one year since we started in bazaars.


Kebanyakan Inspirasi

Lagi-lagi pas sekali waktuku dengan RAD. Tadi pagi aku hubungi dia dan kami bisa bertemu sesudah jam makan siang di PI. Ketemu dia selalu menyenangkan dan mendatangkan inspirasi, dua arah pula.

Hari ini dia minta aku untuk menunjukkan bagaimana mengubah sidebar di blog perusahaannya. Seru juga kami bedah blog di satu cafe yang menghadap ke bunderan HI. Aku terus mendorong dia untuk segera mulai menulis secara rutin. Dia bilang dia sulit cari waktu untuk menulis. Dia memang selalu punya banyak acara di luar rumah. Temannya banyak sekali. Apalagi ragam kegiatannya; mulai memotret, nonton, makan, ketemuan, sampai jalan keluar kota.

Lalu dia tanya aku tentang haiku. Wah.. ternyata tidak gampang menjelaskannya. Aku buka beberapa blog tentang haiku sambil aku sendiri memperdalam tentang ilmu puisi yang satu ini. Lalu aku menemukan keterangan dibawah ini dari satu
blog:

Haiku is one of the Zen art practices, it is a Japanese short poem (composed of three sentences) that expressed our personal feeling and exposes our state of mind through the seasonal words from the daily life and nature. Haiku has humour and there is a delight in word play.

Sesudah beberapa saat aku berusaha menjelaskan serunya bikin haiku, baru dia dapat 'ide'nya. Dia senang sekali. Dia bilang Kalau gitu aku nulis haiku aja! Kami ketawa keras-keras. Apalagi waktu kami mencoba mereka-reka haiku apa yang cocok untuk hari ini.

Potato wedges in red
Black coffee in over-sized cup
Bunderan HI in front

Tapi aku benar-benar senang karena nampaknya dia bisa ‘menangkap’ seninya membuat haiku. Aku usulkan padanya untuk punya buku kecil buat menulis inspirasi dia yang bisa muncul sewaktu-waktu. Tampaknya dia memikirkannya ha ha ha… Aku senaaang.

Sementara aku mendapat masukan lagi tentang tulisan Bahasa Indonesia-ku. Benar-benar polemik yang tidak ada habis-habisnya. Aku dan dia sepakat kalau gaya yang aku pakai sebelum ini adalah gaya tulisan buku-buku dari Penerbit Djambatan tahun 1970an ha ha. Tapi ternyata susah juga untuk merumuskan gaya bahasa masa kini, yang berbeda dengan bahasa yang dipakai koran.

Dia juga cerita kalau mulai hari Senin dia ikut kelas yoga. Kalau ide ini aku agak tidak yakin. RAD dan yoga? Pakai harapan bisa belajar meditasi pula. Wah wah.. dia bisa duduk sejenak dan membaca saja tentu sudah luar biasa. Tapi ada baiknya kita lihat berapa kali dia bisa patuh untuk datang ke kelas yoga. Hm.

RAD juga mulai mempertimbangkan untuk membeli kamera saku buat mengambil gambar spontan. Aku lihat PDA dia sudah bagus kameranya. Lalu dia pun mencoba kameranya dengan mengambil gambar-gambar makro seperti yang sering aku bikin untuk blog. Ahaa.. Gambar di sebelah ini adalah salah satu hasilnya. Tidak jelek kan? Nah makin banyak inspirasi untuk dia.

Dan inspirasi terakhir untuk RAD adalah.. beli komputer notebook. Aku senang dia mulai memikirkannya. Seperti juga aku -- mudah puas dengan apa yang dipunyai -- tapi begitu punya piranti lebih ternyata jadi lebih banyak lagi yang bisa dilakukan. Jadi kapan sempat meditasi?

Friday, May 19, 2006

..inside myself.

Polemik Bahasa

Aku senang sampai kemarin masih ada yang memberi komentar mengenai pos-ku yang memakai Bahasa Indonesia. Ada yang bilang pos-ku tidak mencerminkan “diriku”; dan ada yang bilang aku lebih mampu mengekspresikan diri dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Aku menghargai kedua pendapat itu. Yang pertama aku anggap sebagai ‘pengenalan diri’ dari sisi yang lain karena si pemberi komentar mengenalku sehari-hari (dari satu sisi); yang kedua aku anggap sebagai pendapat “murni” karena si pemberi komentar tidak mengenal diriku. “Murni” dalam arti si pemberi komentar benar-benar melihat tulisanku sebagai ekspresi seseorang, bukan melihat ‘cerita’ dibalik si penulis. Menarik.

Aku ingin mulai membuat satu bagian dalam Bahasa Indonesia setiap hari. Jadi aku bisa berlatih kedua bahasa setiap hari, tidak pada hari tertentu seperti yang disarankan seorang teman. Aku tidak suka kalau harus dipagari dengan jadual ketat seperti hari Rabu sebagai hari berbahasa Indonesia, hari Jumat sebagai hari kesenian,.. ha ha. Ada baiknya memang mempunyai jadual tapi untuk “meditasi” yang satu ini aku ingin bebas.

Yang aku tidak mengerti, kenapa orang (terutama orang asing) menyebut Bahasa Indonesia dengan sebutan “Bahasa” saja. Arti kata “bahasa” adalah ‘language’. Aku lebih suka menyebutnya “Indonesian” untuk “Bahasa Indonesia”, “Malaysian” untuk “Bahasa Malaysia”, dan sama untuk lainnya. Bahasa-bahasa ini tetap berbeda satu dengan yang lain meskipun dari satu rumpun bahasa Melayu. Jadi kenapa disebut “Bahasa” saja? 11:45

Catatan: My main competition is inside myself.
(foto poster di rumah DY di Yogya)


FRA-day

I got up late today. How I wanted to stay longer in bed without worry about my day. Not worry about facing the day but.. having things to do. So I went out late. I took my time in the morning. I read and wrote my Indonesian post above.

Later today a reader suggested me to sign up another blog for my Indonesian post. Second same suggestion I got from my readers. I appreciated the idea but I don’t think I would make another committment. Ubudblu has taken a part of my day. I need more time for reading after anything else. That’s for now. I may change mind.


Finally I met RM after numerous rescheduled appointments the last few weeks. I thought we would never make it at all. Today he took lots of photo for the book (shown in photo). We had a nice discussion about he’s still happy using his non-digital camera. So I helped him out. I took pictures from the same angle and we checked the lighting from my camera. So funny.

We worked efficiently as team. I selected the stuffs to be photographed and a staff cleared the place, then he took pictures quickly with the help of a staff for the lighting. We finished it in less than two hours.

We had a nice chat about business while waiting for his cab. He’s going to launch a quarterly magazine to promote Indo biz in Europe and vice versa. I’m amazed with his ability to make things happen in publication; the framework and the management. He has worked in the industry more than twenty years.

It’s good that RIN came after RM left. I had a company to have late lunch at 16:00. We stayed at UB till 20:00. It’s funny. We noticed that if lights and activities were still on, we could stop cars. It’s like a showcase ha ha.. Think about the business, I believe that FRA and UB are more attractive in the evening when passersby can enjoy the art with light. Hm.

Monday, May 15, 2006

Cage Masala

Now I know that people are watching us thru our blog. I was surprised to find – a few minutes ago – that my 101st post yesterday is listed under Malaysian masala (= problem) in a Malaysian “mind colonies” website. I randomly clicked links under the category to figure out what all are about. It looks like any writing about problem in using multi languages in Malaysia (or Malay speaking countries). Ya.. I had seen other links discussing problem in using Malay in Brunei and Malaysia before. Hm.. I am not alone. I feel flattered to have unintentionally contributed in the discussion.

Yesterday was my Malay day. I challenged myself to write more in Indonesian. I found it hard in the first post but then flowed well in the second. So I thought why I didn’t start writing in my own language. This morning I realized, I could not do this. Some of my readers do not understand the language. I have to be fair. I treasure my readers. I decided to get back to the old mode. With all my flaws. But having one Indonesian posting every week can be good too.

I liked my second post yesterday, the Belenggu Kesempurnaan (Chain of Perfectness). It was about what I learned from being a perfectionist. I found that I had put myself in a cage that I could not see other possibilities to do things. My creativity was dead. Simply because I just knew that printing a blog post actually is VERY easy. Ha ha. I had done it in my stupid perfect way. Or I thought it was perfect. It felt so good to be in touch with my stupidity again (after the naiveness case). I really have to kick the cage in me. Go away!


Note: Photo of thorny cage at Noor Ibrahim's house in Yogya.

Sunday, May 14, 2006

Belenggu Kesempurnaan


Aduh aku jengkel sekali. Masa aku baru tahu kalau halaman blog bisa di copy-paste untuk dicetak dengan hasil seperti yang kita lihat di layar komputer. Grr. Geram sekali aku. Ini salah satu bukti menjadi perfeksionis bukan berarti menghasilkan sesuatu yang sempurna. Justru kesempurnaan itu yang mengurung diri kita sehingga kita tidak terbuka pada kemungkinan lain dan pada akhirnya.. tampaklah kebodohan itu ha ha.

Kemarin temanku bertanya apakah kita tidak bisa begitu saja mencetak halaman blog. Aku jadi bertanya-tanya betul juga kenapa tidak bisa? Menurut pengalamanku – yang ternyata tidak terbukti kebenarannya – halaman itu tidak bisa tampak sama seperti yang kita lihat di layar. Aku jadi berpikir prosedur apa yang sudah aku lakukan sampai aku tidak tahu kalau ternyata untuk mendapatkan hasil itu hanyalah sebuah prosedur biasa, sangaaat biasa. Copy paste. Nenek-nenek juga tahu. Nah baru aku dapat jawabannya.. tampaknya aku terpaku pada tombol Print yang memang tidak ada dalam fitur Blogger. Itu jeleknya kalau terbiasa dengan fitur, lupa kalau segala sesuatu tidak harus selalu pakai tombol. Yang pasti harus pakai akal ha ha ha.

Ya sudahlah. Sudah terjadi. Pos selama tiga bulan sudah tercetak rapih dalam map. Aku sempat melihatnya kembali dengan penuh penyesalan ha ha. Tapi aku agak terhibur juga. Tidak ada yang bisa aku lakukan, kalau aku ingin menyempurnakan dengan mencetak kembali, aku harus lagi-lagi memformat ulang tampilan. Ini terjadi karena template yang aku pakai sebelum yang sekarang berbeda. Di template yang lama, aku harus memakai hurup yang lebih besar karena satu hal yang aku tidak mengerti kenapa. Jadi kalau aku ingin mencetak dengan cara ini, hurufnya pasti besar-besar dan tidak tampak bagus. Jadi apapun, aku tampaknya harus puas dengan yang aku punya sekarang. Waktu memang mendewasakan ha ha. Waktu juga yang mengajarkan sesuatu pada kita.

Dan yang paling penting.. kesempurnaan dapat membelenggu kita.

Catatan: Foto setumpuk rantai di Pasar Ikan Sunda Kelapa.

Hei! Ini pos-ku yang ke-101!

Kemarin aku mendapatkan ide untuk menulis blog ini dalam bahasa Indonesia. Selain untuk melatih kemampuanku menulis dalam bahasaku sendiri, aku juga ingin ‘menertibkan’ cara berbahasaku (dan cara berpikir?). Ada temanku yang mengatakan padaku kalau bahasa Inggris-ku kurang baik (bahkan dia bilang mengganggu). Aku bisa menerima kritik itu, aku juga menyadari kalau aku memiliki kelemahan memilih kata dan menyusunnya dalam tata aturan berbahasa yang baik, dalam bahasa apapun.

Lucunya, seperti ada ‘dorongan' yang menguatkan keinginan untuk kembali memakai bahasa Indonesia. Kemarin aku menemukan satu buku di sebuah toko buku mengenai himbauan untuk lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Kata pengarangnya, sayang aku tidak mengingat namanya, pakailah kembali bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD agar kamu bisa menjadi bangsa yang besar. Aku geli sekali. Kenapa saatnya tepat sekali dengan keinginanku untuk mulai berpikir dan berkarya dalam bahasaku sendiri.

Menulis dan berbicara menggunakan bahasa kedua memang tidak mudah. Aku ingat pembicaraan dengan teman-temanku yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau ketiga sesudah bahasa ibu atau negara tempat tinggalnya. Mereka bilang mereka bisa pusing sendiri kalau mendengarkan orang-orang dari negara berbahasa Inggris berbicara menggunakan dialeknya masing-masing dengan cepat. Sementara mereka harus terus mengikuti pembicaraan dengan aktif, sementara masih berpikir dalam bahasanya sendiri. Rasanya seperti ingin menutup telinga katanya. Ha ha. Aku terbahak-bahak mendengar kisah mereka ini. Ternyata aku tidak sesulit mereka. Aku bisa masuk saja dalam pembicaraan tanpa harus berpikir panjang. Ini juga yang membuat tulisanku jadi kurang baik karena aku terlalu spontan. Aku menulis, mungkin dalam berbicara juga, apa yang ada di kepalaku saat itu. Beberapa kali aku membaca kembali tulisanku dan membetulkan tata kaidahnya, tapi aku pikir lebih mudah untuk mengomentari apa yang orang lain tuliskan daripada mengomentari tulisan sendiri. Sama sulitnya seperti menilai tingkah laku sendiri. Ya?

Aku senang aku sudah menulis tiga paragraf diatas dalam waktu relatif sama cepatnya dengan aku menulis dalam bahasa Inggris. Waktu aku baca kembali, lagi-lagi aku menemukan beberapa kata yang pemakaiannya terbalik, tidak sesuai dengan kaidah subyek-predikat-obyek-keterangan ha ha.. Aku ingat hari-hari di masa kecilku dimana aku harus selalu mengingat rumus itu dalam menulis.

Ada hal yang dapat aku lakukan untuk memperbaiki kemampuanku menulis bahasa Indonesia dengan baik. Aku harus banyak membaca buku fiksi dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang dipakai koran sedikit berbeda dengan bahasa ‘bercerita’ jadi tidak bisa banyak membantu.

Kelihatannya usahaku tidak buruk hasilnya. Paling tidak aku sudah membuat kemajuan pagi ini dengan melatih kemampuan yang sudah ada. Aku harus segera bersiap-siap ‘memulai’ hari sekarang. Aku sudah melemaskan tubuh sampai berkeringat dengan latihan peregangan, tidak bisa disebut yoga murni. Cukup puas dengan semuanya. Apa? Cukup?


Catatan: Foto bahasa gado-gado yang aku ambil di sekitar Kemang.

Thursday, March 2, 2006

Horror-scope

Hey I do not take horoscope seriously but – must admit – that there is truth. It can help me defining of what I ‘want’ – strange eh? Yaa.. I am the kind of person who needs ‘verifications.’ It is annoying. My lack of ‘just-do-it’ spirit. To my horror, today it says:

“You may want to try anything new today, but this kind of interest won't be helpful. Although you may be sorely tempted, scattering your energy now is not a sensible strategy. Revisit recent budgetary decisions over the next few weeks. Make time to attend to the practical aspects of business, balancing your checkbook and taking care of other financial details that you've been neglecting.”

That was exactly what I thought before I read it. I decided not to go to visit Mama this weekend although it should be a perfect time – good I have not indicated her my plan to visit. Weekdays are hard to squeeze because I have regular Wednesday and Friday activities. But yes. I need to use this weekend to work on the biz financial details that have been neglected for a very long time. And also, I want to be part of Java Jazz. I have been excited for so long and now is the time. I cannot be away..

I feel bad tho for not prioritizing Mama but.. Doing nice thing for self is like taking drugs. Addictive. But I want to combine ‘punishing’ and ‘enjoying’ self. I feel bad if I take the latter more – which I did recently. Today I listened to a girl friend over phone. She was telling me about her activities which is a nice combination of sporting, nice lunching with friends in nice restos, and having any treatment a woman can think of in a salon. Oh my. I reflected. I need balance.. I need balance.. Not that kind of ‘balance.’

Wireless connection at home is down since morning. I have tried everything but nothing. Even the LAN has slow connection. Now I appreciate the luxury of having broadband working good. I have been taking it for granted because it never went down since installation a month ago. It is a sign to start working offline NOW! 15:29

Dan akhirnya hari ini aku pun tidak membuat kemajuan lagi untuk beres-beres urusan keuangan. Aku pikir aku akan punya akhir pekan yang menyenangkan, tetapi nampaknya akhir pekan akan jadi seperti yang lalu. Jadi aku tidak tahu apakah aku bisa menyelesaikan rencanaku untuk membereskan hutang-hutang keuangan yang sudah menumpuk itu.

Aku telpon Pak Solihin dari Speedy tadi. Tentu saja broadband-nya mati karena aku belum bayar katanya. Bagaimana aku tahu jatuh temponya kalau aku tidak pernah terima tagihannya? Hal baru selalu membawa pengalaman yang tidak mengenakkan. Tapi tak apa, sesudah satu hari tanpa broadband, aku tentu tidak akan pernah lupa membayar lagi. Untung besok masih hari Jumat, jadi bisa bayar di loket, karena Speedy tidak bisa dibayar dari bank. Ini namanya menambah pekerjaan baru.

Jadi tidak ada lagi yang baru dari hariku hari ini. Tidak ada kemajuan yang berarti. Rasanya hidup jadi membosankan. Tapi ada satu hal baru yang aku lakukan hari ini. Aku banyak minum air putih! Aku mendapatkan ide dari makan siang di Dixie kemarin. Mereka menyajikan air dingin yang diberi irisan lemon dalam teko, dan aku menyukainya! Aku lupa kalau dulu aku suka menyajikan air putih seperti itu kalau menjamu teman di rumah. Jadi aku berhasil minum tiga gelas air dalam waktu kurang dari satu jam. Bagus kan prestasiku hari ini?

Prestasi lain? Menulis dalam Bahasa Indonesia. Aku tahu tata bahasaku pasti aneh dan canggung, sama seperti tata bahasaku dalam Bahasa Inggris. Buruk. Aku memang ‘ahli bahasa’ yang tidak bisa berbahasa dengan baik, apapun bahasanya, tidak disini – tidak disana ha ha.. Mudah-mudahan Pak Anton menemukan tata bahasaku ini cukup baik sesuai kaidah.


Satu lagi, KIE mengirim sms mengabari kalau hari ini adalah hari ulang tahun perkawinannya yang ke-32! Yaa prestasi besar di abad penuh tantangan ini. Dia juga menyelipkan 'pesan' untuk belajar pandai seperti dia, menyelaraskan kehidupan luar dan.. keluarga! Setuju sekali. Tapi itu perlu kekebalan perasaan yang luar biasa. Hm. 20 tahun dari sekarang?

Hari kututup saja. Tidak ada tanda-tanda akan ada peristiwa lagi. Aku membatalkan untuk bertemu dengan teman yang kemarin hendak menemuiku di Citos. Aku bilang dia kalau aku tidak mau bertemu dia karena aku bete. Dia jadi ikut-ikutan bete katanya. He he maaf. Ini bukan hariku.

Catatan: Patung Betara Kala di Museum Nasional.