i R i
Beberapa hari yang lalu aku menyadari kalau aku sudah lama tidak menulis dalam Bahasa Indonesia. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba keinginan yang pernah aku canangkan bulan lalu menghilang begitu saja dari rutinitasku.
Sejalan dengan cepatnya waktu berlalu, aku menyadari kalau aku juga berubah dengan cepat. Kebiasaanku, kegiatanku, ritmeku, cara berpikirku,… seperti tanpa ada proses lagi. Semuanya berlari seperti menjentikan foto slide di pemutarnya.
Pembacaku juga berubah. Komentator bahasa Indonesia-ku menghilang. RAD menghilang ditelan kesibukan mengurus Yogya, aku sudah lama tidak mendengar kabar dari AMI,..
Aku juga sering kaget menyadari kalau aku ketinggalan satu–dua pos di blog temanku. Seperti mimpi, baru membaca kemarin, tiba-tiba empat hari sudah berlalu dan aku terlewat membaca beberapa pos. Oh.
Beberapa waktu yang lalu aku mengatakan pada seorang teman baik kalau aku ‘tidak sanggup’ membaca beberapa blog karena alasan sentimental. Seperti juga teman, blog mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang membangkitkan semangat dan ada yang mengingatkan pada hal-hal yang sedih.
Salah satu blog yang jarang aku cek meskipun aku sangat menyukainya adalah blog Paredes. Aku tak suka mengatakannya tapi aku harus mengakuinya.. aku iri dengan kehidupannya yang nampak begitu indah. Keluarga yang bahagia, istri dan anak-anak yang cantik dan baik, kegiatannya di musik dan kesenian lain,.. Aku senang melihat kehidupannya seperti aku melihat kisah di film-film Hollywood dimana semua nampak indah. Yang membuatku iri bukan karena keindahan hidupnya, tapi karena keyakinanku kalau hidup Paredes seindah yang dia gambarkan di blog-nya. Nah!
Kalau sudah begini, sulit rasanya untuk menghitung keuntungan dan kelebihan yang aku punya. Cermin yang aku pakai untuk memantulkan diriku terlalu indah, seperti cermin yang membuatku nampak lebih tinggi dan langsing. Penuh ilusi. Karena itu, di saat-saat seperti ini, aku lebih suka tidak bercermin (pada cermin apapun). Kadang-kadang tidak tahu apa kelebihan dan kekurangan kita lebih baik daripada mengetahui semuanya dan berusaha mengubahnya.
Seperti yang aku lakukan dengan menimbang badan hari ini. Oprah membahas tentang penderita anorexia yang kerasukan timbangan badan. Mereka bisa mengecek berat badan dua belas kali dalam sehari. Aku teringat kalau aku sudah lama tidak mengecek berat badan yang biasanya aku lakukan sebelum mandi. Sesudah berbulan-bulan tidak tahu berapa berat badanku (yang relatif stabil ini), aku berharap ada kejutan dengan menimbangnya hari ini.
Kejutan!! Tetap 44!!
Foto: ES di dalam instalasi di Rumah Seni Cemeti di Yogya.